Braaakkkkk!!!!
Aku
membanting pintu lemari pakaian. Aku habis berantem dengan kakakku gara-gara
makan malam. Bukan, bukan kakakku, tapi lebih tepatnya kembaranku. Muka kita
mirip sekali, tapi sifat kita beda, bahkan nama kita nggak mirip-mirip amat.
Perkenalkan, namaku Kristian.
“Kris,
buka pintunya, Kris!” Alex terus-terusan mengetuk pintu kamarku. Ya, dia adalah
kakak kembaranku, aku hanya memanggilnya kakak ketika di situasi tertentu,
meskipun umur kita hanya terpaut beberapa menit saja.
“Kris,
aku minta maaf. Buka pintunya dong!” teriaknya membujukku. Dia memang terkenal
di kampus, karena sifatnya yang sopan, baik, ramah, murah senyum, pemaaf, dan
seabreg kelebihan. Dan aku? Pemarah, sensitif, dingin, hampir nggak ada sisi
baiknya.
“Nggak
perlu, udah aku maafin!!” teriakku dengan perasaan mengkal.
“Kalau
udah dimaafin, ya dibuka pintunya. Sebentar kok.” Alex masih saja menunggu di
luar. Lama-lama aku nggak tahan juga dengan teriakannya. Aku beranjak dari kasur
dengan malas. Meraih gagang pintu dan membukanya. Kudapati wajah kak Alex
dengan senyumannya. Aku membuang muka.
“Maaf
ya, dek.” ucapnya lagi. Aku menoleh dengan malas.
“Kalau
sampai bilang maaf sekali lagi, aku nggak akan pernah anggap kamu sebagai kakakku.”
ucapku dingin. Dia hanya manyun. Aku mendengus kesal.
“Iya,
iya. Ya udah, buruan siap-siap. Kamu juga diundang ke pestanya Joshua, kan?
Kita berangkat bareng aja, ya?” sebelum aku membuka mulut untuk menolak, dia
sudah ngeloyor ke kamarnya, meninggalkanku di ambang pintu. Sore ini aku
benar-benar bad mood.
***
Di rumah
Joshua aku hanya menemuinya sebentar, ngobrol sedikit, lantas aku keluar rumah
menuju dekat kolah renang. Aku menghirup napas dalam-dalam. Lantas
menghembuskannya perlahan. Cukup sejuk udara malam ini. Aku menyeruput minuman
berwarna oranye yang tinggal setengah gelas. Kupandangi keramaian di teras
belakang rumah Joshua, penuh dengan teman-teman Joshua. Ya, dia merayakan atas
mendapat kesempatan untuk kuliah di Amerika Serikat sekaligus double degree.
“Hei!”
aku terlonjak hampir melompat, “Kok sendirian? Nggak ke sana?” lanjutnya, “Oh
ya, kenalin aku Tiffani.” ucapnya kemudian sambil menyodorkan tangan kanannya.
Aku gugup menyalaminya. Seumur hidup baru kali ini aku kenalan langsung dengan
cewek. Biasanya aku dikenalin temanku, atau kak Alex.
“Kristian.
Panggil Kris saja.” ucapku. Degup jantungku meningkat sedikit demi sedikit. Aku
melirik ke arahnya. Kudapati dia tinggi semampai, rambut coklat tuanya terurai
begitu saja mengikuti tiupan angin, kulitnya cerah, dia memakai gaun warna
kakhi dengan sepatu high heels warna senada.
“Sekampus
dengan Joshua, kan?” tanyanya tiba-tiba, membuatku salah tingkat.
“Eh?
Eh.. hm... i.. iya. Kampus UGM, sekampus dengan Joshua.” jawabku gelagapan. Dia
hanya tersenyum kecil melihatku.
“Jurusan
apa?” tanyanya lagi.
“Kedokteran
Gigi.” jawabku singkat. Aku menelan ludah.
“Kamu....”
aku berhenti.
“Aku....”
dia juga berhenti. Lantas memandangku. Aku salah tingkah, “Kamu dulu.”
lanjutnya kemudian.
“Kamu
jurusan apa?” tanyaku kemudian.
“Oh itu,
aku di Kedokteran, aku temannya Alex, kakakmu.” jawabnya dengan santai. Aku
agak kaget. Bukan, bukan karena dia di jurusan itu, tapi lebih karena dia
sejurusan dengan Alex.
“Oh.”
“Kamu
ternyata beda banget ya sama Alex.” ucapnya tiba-tiba sambil menoleh ke arahku.
Aku mengangkat kedua alisku, tanda bingung.
“Bukan
wajahnya, tapi sifatnya.” ucapnya seakan tahu maksudku. Aku menelan ludah lagi.
“Kita
memang beda. Kak Alex lebih ceria, kan? Sedangkan aku orangnya dingin banget.”
ujarku. Dia menoleh.
“Justru
itu yang membuatku suka. Aku suka orang yang sifatnya dingin. Tapi, nggak semua
orang dingin itu semuanya jelek. Mungkin kamu juga punya sisi baik, meskipun
kamu sendiri tidak tahu.” aku mengedipkan mata tiga kali dengan cepat demi
mendengar ucapannya. Dia ngerti banget, ucapku dalam hati.
***
“Kak
Alex!” ucapku sambil mengetuk pintunya.
“Tumben
sekali mencariku, biasanya alergi dengan kamarku.” ucapnya sedetik kemudian
setelah membuka pintu dan mendapatiku berdiri dengan baju tidurku. Aku tak
menghiraukannya. Aku masuk kamarnya tanpa permisi. Dia melihat aneh dengan
tingkah lakuku.
“Katanya
tadi marah, eh kok sekarang malah ke sini?” ucapnya lagi. Aku duduk bersila di
kasurnya. Dia duduk di kursi dekat meja belajarnya.
“Kenal
Tiffani?” tanyaku to the point. Tentu saja kak Alex kaget, seperti
dugaanku sebelumnya.
“Kenal
lah, dia sekelas denganku. Memangnya kenapa? Kok kamu bisa kenal?” wajahnya
menunjukkan rasa penasaran yang super tinggi. Kulirik jam dinding, 23.45.
“Dia
orangnya gimana kak?” tanyaku kemudian. Dia semakin kaget.
“Busyet,
kamu kenapa? Sikapnya jadi hangat gitu?” dia terperangah melihat gaya bicaraku
yang tidak seperti biasanya.
“Jawab
saja.” cetusku.
“Tiffani?
Dia itu selalu ceria, murah senyum, baik, sopan, hangat, enak diajak ngobrol,
terus... ya pokonya friendly lah.” jelasnya cukup singkat tapi cukup,
“Memangnya kamu kenal dia di mana?” tanyanya kemudian.
“Di
pesta tadi.” jawabku singkat.
“Ciee...
ada yang naksir nih sama temanku.” goda kak Alex.
“Siapa
juga yang naksir, males ah udah, aku mau tidur.” jawabku sambil beranjak dari
tempat tidurnya. Dia masih saja menggodaku, tapi aku cuek saja. Sampai di
kamar, aku merobohkan diri di kasur biruku. Aku tatap langit-langit kamar. Aku tersenyum
ingat wajah Tiffani. Inikah yang disebut dengan cinta?
6 bulan
berlalu...
Setiap
tanggal jadian aku dan Tiffani, tiap bulan, dia memberiku bingkisan kecil. Yah,
mulai dari kaos, sepatu, jaket, dan entahlah. Begitu juga sebaliknya, aku memberinya
bingkisan kecil, mulai dari kalung, kaos, cincin, dan apalah. Hari-hari telah
berlalu terlalu manis buatku bersamanya. Namun, akhir-akhir ini hubungan kita
tak sekuat lagi seperti di awal-awal dulu. Aku sudah sibuk dengan tugas-tugas
kuliah, praktikum, penelitian ini-itu, begitu juga dengan dia.
“Bisa
ketemuan nggak malam ini? Di tempat biasanya ya, jam 7 malam. Aku tunggu di
sana. Oke?” ajak Tiffani ketika aku bertemu dia di pintu masuk perpustakaan.
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lantas masuk ke perpustakaan. Dia
melihatku aneh, tapi ia tak menghiraukan, hanya berpikir aku seperti biasanya,
dingin.
“Jangan
lupa ya!” teriaknya memastikanku. Aku berhenti sambil menoleh ke belakang.
“Oke!”
aku mengangkat jempolku, lantas kembali meneruskan masuk ke dalam lift.
***
Tepat
jam 6.45 aku keluar rumah. Aku langsung melesat ke kafe yang dimaksud Tiffani
tadi siang. Pikiran aneh mulai muncul satu persatu di kepalaku. Aku
menggelengkan kepala pelan, menghela napas.
“Sudah
lama menunggu?” tanyaku ketika aku mengambil tempat duduk tepat di depannya.
Kulihat wajahnya tidak seceria ketika dia menjalankan aktivitas siangnya, “Mau
pesan apa?” tanyaku kemudian sambil hendak beranjak. Namun dia menghentikanku.
“Nggak
perlu. Aku hanya sebentar kok.” ucapnya yang membuatku semakin penasaran. Aku
memperbaiki posisi dudukku.
“Ada
apa?” tanyaku kemudian ketika dia hanya menatap meja di depan kita. Dia mulai
menatapku.
“Kris.
Sebelumnya aku minta maaf. Aku bukan berarti nggak suka lagi sama kamu, aku tak
bermaksud untuk bersama-sama, bukan. Tapi, aku hany...”
“Tolong,
Tiff! Jangan katakan begitu.” aku memotongnya seketika aku mengetahui
maksudnya. Dia menunduk. Kemudian mengangkat wajahnya lagi. Matanya menatapku.
Aku melihat terdapat cairan bening menggenang di sana.
“Kris,
aku mau kita sampai sini saja. Aku...” dia mengusap tetesan air matanya, “Aku
minta maaf, dan terima kasih telah bersamaku selama enam bulan. Banyak kenangan
yang kudapat darimu. Aku berharap kita bisa tetap sahabatan.” lanjutnya dengan
mata sembab. Aku menunduk, perasaanku saat ini kecewa, sedih, menyesal, marah,
dan entahlah. Aku bahkan bingung dengan diriku sendiri.
“Tidak
apa-apa. Aku yang minta maaf, karena belum bisa memberimu kebahagiaan seperti
pasangan lainnya.” ucapku sambil menunduk.
“Nggak.
Kamu beda, Kris. Justru itu aku bisa belajar darimu, aku dapat mengambil banyak
pelajaran hidup bersamamu.” bantahnya lembut, “Kamu beda, dan aku suka itu.”
lanjutnya sambil mengambil tasnya dan hendak beranjak pergi. Aku mengangkat
kepala. Memandangnya sejenak untuk terakhir kalinya.
“Terima
kasih, untuk semuanya.” aku mengakhirinya. Aku masih berdiam diri di meja kafe
itu. Kupandangi dirinya yang berjalan tergesa menuju ke parkiran. Aku
memajamkan mata.
***
“Hei,
ada apa, Kris?” tanya kakakku ketika berpapasan di anak tangga. Aku tak
merespon. Aku tetap menunduk.
“Ada
masalah?” tanyanya lagi. Aku tetap diam. Aku hendak berjalan naik lagi. Tapi
tangannya membuatku terhenti.
“Ada
apa? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanyanya sekali lagi. Aku menatapnya
dalam-dalam.
“Aku
diputus. Puas?” jawabnya dengan dingin. Dia melepaskan cengkeramannya pada
jaketku. Aku berjalan ke kamar. Kukunci kamarku dan kurobohkan badanku ke
kasur. Aku memejamkan mata rapat-rapat, mengingat apa yang barusan terjadi. Aku
bingung. Ini membingungkan. Apakah cinta itu seperti ini?
***
Aku
membuka lemari pakaianku untuk ganti baju. Aku diundang ke pesta Hendri yang
katanya dapat beasiswa pertukaran pelajar ke Cambridge University selama
setahun. Aku melihat kotak besar di dasar lemari itu. Aku membukanya, terdapat
beberapa barang pemberian Tiffani yang kutaruh di sini. Aku mengambil satu foto
yang menggambarkan kebahagian kita ketika menghabiskan liburan ke Bandung. Aku
mengambil kaos putih bertuliskan K&T Forever. Aku meletakkannya
kembali, kututup kotak besar itu. Aku menghembuskan napas berat.
“Tuhan
pasti punya rencana baik di balik setiap kejadian yang terjadi.” kak Alex
tiba-tiba masuk dan berkata begitu. Kulihat dia sedang memakai hem birunya. Aku
mengambil baju dan celana, lantas menutup rapat lemari pakaianku.
“Tuhan
selalu saja punya kejutan yang hampir membuatku mati kata.” balasku sambil
memakai bajuku. Aku teringat itu yang dikatakan Tiffani ketika aku memintanya
untuk menjadi pacarku. Aku ingat betul kejadian itu.
***
Di pesta
Hendri ini, hampir sama dengan pesta di rumah Joshua. Aku menyendiri di
tamannya. Duduk manis melihat keramaian sambil memegang segelas jus. Aku
menghirup udara dalam-dalam.
“Hai!
Sendirian saja nih?” ucap seseorang dari arah kananku. Aku melihat seorang
wanita dengan paras cantik, dengan rambut hitam yang terurai dengan anggun.
Sorotan matanya menandakan bahwa ia benar-benar wanita yang baik.
“Hai!
Iya.” aku menggeser tempat duduk. Lantas mempersilakannya untuk duduk. Dia
menganggukkan kepala, lantas duduk di sampingku.
“Kenalin,
Jessica.” aku menyalaminya, “Kristian.” ucapku kemudian. Aku tersenyum padanya.
Aku mulai menyukai gaya bicaranya. Membuatku betah bersamanya.
No comments:
Post a Comment