Sunday, June 4, 2017

Inside the Wardrobe

 Braaakkkkk!!!!
Aku membanting pintu lemari pakaian. Aku habis berantem dengan kakakku gara-gara makan malam. Bukan, bukan kakakku, tapi lebih tepatnya kembaranku. Muka kita mirip sekali, tapi sifat kita beda, bahkan nama kita nggak mirip-mirip amat. Perkenalkan, namaku Kristian.
“Kris, buka pintunya, Kris!” Alex terus-terusan mengetuk pintu kamarku. Ya, dia adalah kakak kembaranku, aku hanya memanggilnya kakak ketika di situasi tertentu, meskipun umur kita hanya terpaut beberapa menit saja.
“Kris, aku minta maaf. Buka pintunya dong!” teriaknya membujukku. Dia memang terkenal di kampus, karena sifatnya yang sopan, baik, ramah, murah senyum, pemaaf, dan seabreg kelebihan. Dan aku? Pemarah, sensitif, dingin, hampir nggak ada sisi baiknya.
“Nggak perlu, udah aku maafin!!” teriakku dengan perasaan mengkal.
“Kalau udah dimaafin, ya dibuka pintunya. Sebentar kok.” Alex masih saja menunggu di luar. Lama-lama aku nggak tahan juga dengan teriakannya. Aku beranjak dari kasur dengan malas. Meraih gagang pintu dan membukanya. Kudapati wajah kak Alex dengan senyumannya. Aku membuang muka.
“Maaf ya, dek.” ucapnya lagi. Aku menoleh dengan malas.
“Kalau sampai bilang maaf sekali lagi, aku nggak akan pernah anggap kamu sebagai kakakku.” ucapku dingin. Dia hanya manyun. Aku mendengus kesal.
“Iya, iya. Ya udah, buruan siap-siap. Kamu juga diundang ke pestanya Joshua, kan? Kita berangkat bareng aja, ya?” sebelum aku membuka mulut untuk menolak, dia sudah ngeloyor ke kamarnya, meninggalkanku di ambang pintu. Sore ini aku benar-benar bad mood.

***

Di rumah Joshua aku hanya menemuinya sebentar, ngobrol sedikit, lantas aku keluar rumah menuju dekat kolah renang. Aku menghirup napas dalam-dalam. Lantas menghembuskannya perlahan. Cukup sejuk udara malam ini. Aku menyeruput minuman berwarna oranye yang tinggal setengah gelas. Kupandangi keramaian di teras belakang rumah Joshua, penuh dengan teman-teman Joshua. Ya, dia merayakan atas mendapat kesempatan untuk kuliah di Amerika Serikat sekaligus double degree.
“Hei!” aku terlonjak hampir melompat, “Kok sendirian? Nggak ke sana?” lanjutnya, “Oh ya, kenalin aku Tiffani.” ucapnya kemudian sambil menyodorkan tangan kanannya. Aku gugup menyalaminya. Seumur hidup baru kali ini aku kenalan langsung dengan cewek. Biasanya aku dikenalin temanku, atau kak Alex.
“Kristian. Panggil Kris saja.” ucapku. Degup jantungku meningkat sedikit demi sedikit. Aku melirik ke arahnya. Kudapati dia tinggi semampai, rambut coklat tuanya terurai begitu saja mengikuti tiupan angin, kulitnya cerah, dia memakai gaun warna kakhi dengan sepatu high heels warna senada.
“Sekampus dengan Joshua, kan?” tanyanya tiba-tiba, membuatku salah tingkat.
“Eh? Eh.. hm... i.. iya. Kampus UGM, sekampus dengan Joshua.” jawabku gelagapan. Dia hanya tersenyum kecil melihatku.
“Jurusan apa?” tanyanya lagi.
“Kedokteran Gigi.” jawabku singkat. Aku menelan ludah.
“Kamu....” aku berhenti.
“Aku....” dia juga berhenti. Lantas memandangku. Aku salah tingkah, “Kamu dulu.” lanjutnya kemudian.
“Kamu jurusan apa?” tanyaku kemudian.
“Oh itu, aku di Kedokteran, aku temannya Alex, kakakmu.” jawabnya dengan santai. Aku agak kaget. Bukan, bukan karena dia di jurusan itu, tapi lebih karena dia sejurusan dengan Alex.
“Oh.”
“Kamu ternyata beda banget ya sama Alex.” ucapnya tiba-tiba sambil menoleh ke arahku. Aku mengangkat kedua alisku, tanda bingung.
“Bukan wajahnya, tapi sifatnya.” ucapnya seakan tahu maksudku. Aku menelan ludah lagi.
“Kita memang beda. Kak Alex lebih ceria, kan? Sedangkan aku orangnya dingin banget.” ujarku. Dia menoleh.
“Justru itu yang membuatku suka. Aku suka orang yang sifatnya dingin. Tapi, nggak semua orang dingin itu semuanya jelek. Mungkin kamu juga punya sisi baik, meskipun kamu sendiri tidak tahu.” aku mengedipkan mata tiga kali dengan cepat demi mendengar ucapannya. Dia ngerti banget, ucapku dalam hati.

***

“Kak Alex!” ucapku sambil mengetuk pintunya.
“Tumben sekali mencariku, biasanya alergi dengan kamarku.” ucapnya sedetik kemudian setelah membuka pintu dan mendapatiku berdiri dengan baju tidurku. Aku tak menghiraukannya. Aku masuk kamarnya tanpa permisi. Dia melihat aneh dengan tingkah lakuku.
“Katanya tadi marah, eh kok sekarang malah ke sini?” ucapnya lagi. Aku duduk bersila di kasurnya. Dia duduk di kursi dekat meja belajarnya.
“Kenal Tiffani?” tanyaku to the point. Tentu saja kak Alex kaget, seperti dugaanku sebelumnya.
“Kenal lah, dia sekelas denganku. Memangnya kenapa? Kok kamu bisa kenal?” wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang super tinggi. Kulirik jam dinding, 23.45.
“Dia orangnya gimana kak?” tanyaku kemudian. Dia semakin kaget.
“Busyet, kamu kenapa? Sikapnya jadi hangat gitu?” dia terperangah melihat gaya bicaraku yang tidak seperti biasanya.
“Jawab saja.” cetusku.
“Tiffani? Dia itu selalu ceria, murah senyum, baik, sopan, hangat, enak diajak ngobrol, terus... ya pokonya friendly lah.” jelasnya cukup singkat tapi cukup, “Memangnya kamu kenal dia di mana?” tanyanya kemudian.
“Di pesta tadi.” jawabku singkat.
“Ciee... ada yang naksir nih sama temanku.” goda kak Alex.
“Siapa juga yang naksir, males ah udah, aku mau tidur.” jawabku sambil beranjak dari tempat tidurnya. Dia masih saja menggodaku, tapi aku cuek saja. Sampai di kamar, aku merobohkan diri di kasur biruku. Aku tatap langit-langit kamar. Aku tersenyum ingat wajah Tiffani. Inikah yang disebut dengan cinta?

6 bulan berlalu...

Setiap tanggal jadian aku dan Tiffani, tiap bulan, dia memberiku bingkisan kecil. Yah, mulai dari kaos, sepatu, jaket, dan entahlah. Begitu juga sebaliknya, aku memberinya bingkisan kecil, mulai dari kalung, kaos, cincin, dan apalah. Hari-hari telah berlalu terlalu manis buatku bersamanya. Namun, akhir-akhir ini hubungan kita tak sekuat lagi seperti di awal-awal dulu. Aku sudah sibuk dengan tugas-tugas kuliah, praktikum, penelitian ini-itu, begitu juga dengan dia.
“Bisa ketemuan nggak malam ini? Di tempat biasanya ya, jam 7 malam. Aku tunggu di sana. Oke?” ajak Tiffani ketika aku bertemu dia di pintu masuk perpustakaan. Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lantas masuk ke perpustakaan. Dia melihatku aneh, tapi ia tak menghiraukan, hanya berpikir aku seperti biasanya, dingin.
“Jangan lupa ya!” teriaknya memastikanku. Aku berhenti sambil menoleh ke belakang.
“Oke!” aku mengangkat jempolku, lantas kembali meneruskan masuk ke dalam lift.

***
Tepat jam 6.45 aku keluar rumah. Aku langsung melesat ke kafe yang dimaksud Tiffani tadi siang. Pikiran aneh mulai muncul satu persatu di kepalaku. Aku menggelengkan kepala pelan, menghela napas.
“Sudah lama menunggu?” tanyaku ketika aku mengambil tempat duduk tepat di depannya. Kulihat wajahnya tidak seceria ketika dia menjalankan aktivitas siangnya, “Mau pesan apa?” tanyaku kemudian sambil hendak beranjak. Namun dia menghentikanku.
“Nggak perlu. Aku hanya sebentar kok.” ucapnya yang membuatku semakin penasaran. Aku memperbaiki posisi dudukku.
“Ada apa?” tanyaku kemudian ketika dia hanya menatap meja di depan kita. Dia mulai menatapku.
“Kris. Sebelumnya aku minta maaf. Aku bukan berarti nggak suka lagi sama kamu, aku tak bermaksud untuk bersama-sama, bukan. Tapi, aku hany...”
“Tolong, Tiff! Jangan katakan begitu.” aku memotongnya seketika aku mengetahui maksudnya. Dia menunduk. Kemudian mengangkat wajahnya lagi. Matanya menatapku. Aku melihat terdapat cairan bening menggenang di sana.
“Kris, aku mau kita sampai sini saja. Aku...” dia mengusap tetesan air matanya, “Aku minta maaf, dan terima kasih telah bersamaku selama enam bulan. Banyak kenangan yang kudapat darimu. Aku berharap kita bisa tetap sahabatan.” lanjutnya dengan mata sembab. Aku menunduk, perasaanku saat ini kecewa, sedih, menyesal, marah, dan entahlah. Aku bahkan bingung dengan diriku sendiri.
“Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf, karena belum bisa memberimu kebahagiaan seperti pasangan lainnya.” ucapku sambil menunduk.
“Nggak. Kamu beda, Kris. Justru itu aku bisa belajar darimu, aku dapat mengambil banyak pelajaran hidup bersamamu.” bantahnya lembut, “Kamu beda, dan aku suka itu.” lanjutnya sambil mengambil tasnya dan hendak beranjak pergi. Aku mengangkat kepala. Memandangnya sejenak untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih, untuk semuanya.” aku mengakhirinya. Aku masih berdiam diri di meja kafe itu. Kupandangi dirinya yang berjalan tergesa menuju ke parkiran. Aku memajamkan mata.

***

“Hei, ada apa, Kris?” tanya kakakku ketika berpapasan di anak tangga. Aku tak merespon. Aku tetap menunduk.
“Ada masalah?” tanyanya lagi. Aku tetap diam. Aku hendak berjalan naik lagi. Tapi tangannya membuatku terhenti.
“Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanyanya sekali lagi. Aku menatapnya dalam-dalam.
“Aku diputus. Puas?” jawabnya dengan dingin. Dia melepaskan cengkeramannya pada jaketku. Aku berjalan ke kamar. Kukunci kamarku dan kurobohkan badanku ke kasur. Aku memejamkan mata rapat-rapat, mengingat apa yang barusan terjadi. Aku bingung. Ini membingungkan. Apakah cinta itu seperti ini?

***

Aku membuka lemari pakaianku untuk ganti baju. Aku diundang ke pesta Hendri yang katanya dapat beasiswa pertukaran pelajar ke Cambridge University selama setahun. Aku melihat kotak besar di dasar lemari itu. Aku membukanya, terdapat beberapa barang pemberian Tiffani yang kutaruh di sini. Aku mengambil satu foto yang menggambarkan kebahagian kita ketika menghabiskan liburan ke Bandung. Aku mengambil kaos putih bertuliskan K&T Forever. Aku meletakkannya kembali, kututup kotak besar itu. Aku menghembuskan napas berat.
“Tuhan pasti punya rencana baik di balik setiap kejadian yang terjadi.” kak Alex tiba-tiba masuk dan berkata begitu. Kulihat dia sedang memakai hem birunya. Aku mengambil baju dan celana, lantas menutup rapat lemari pakaianku.
“Tuhan selalu saja punya kejutan yang hampir membuatku mati kata.” balasku sambil memakai bajuku. Aku teringat itu yang dikatakan Tiffani ketika aku memintanya untuk menjadi pacarku. Aku ingat betul kejadian itu.

***

Di pesta Hendri ini, hampir sama dengan pesta di rumah Joshua. Aku menyendiri di tamannya. Duduk manis melihat keramaian sambil memegang segelas jus. Aku menghirup udara dalam-dalam.
“Hai! Sendirian saja nih?” ucap seseorang dari arah kananku. Aku melihat seorang wanita dengan paras cantik, dengan rambut hitam yang terurai dengan anggun. Sorotan matanya menandakan bahwa ia benar-benar wanita yang baik.
“Hai! Iya.” aku menggeser tempat duduk. Lantas mempersilakannya untuk duduk. Dia menganggukkan kepala, lantas duduk di sampingku.
“Kenalin, Jessica.” aku menyalaminya, “Kristian.” ucapku kemudian. Aku tersenyum padanya. Aku mulai menyukai gaya bicaranya. Membuatku betah bersamanya.

No comments:

Post a Comment